Anak

Dua tahun setelah kedatangannya di hidupku, dia masih saja seukuran anak SD. Tidak bertambah tinggi ataupun besar. Siapa pun akan mengira umurnya sekitar enam atau tujuh tahun. Rambutnya yang pendek dan tipis pun tak kunjung tumbuh, sama dengan kuku-kuku di jarinya.

Sudah setengah jam aku mengamati bocah itu dalam posisinya yang sama. Terpatung memandangi ikan-ikan koi yang asyik mondar-mandir di aquarium baru kami. Sesekali dia akan menempelkan tangannya ke sekat kaca itu, lalu mengikuti arah berenang ikan-ikan yang seperti tidak peduli sama sekali.

Waktu aku kecil, aku pun suka menontoni ikan-ikan dalam aquarium, tapi aku rasa tidak separah itu, yang sampai-sampai seperti terhipnotis. Apa lagi jika dia sedang bermain dengan mainan favoritnya, saat mengobok-obok air dalam baskom hingga muncul pusaran meliuk-liuk di tengahnya yang akan dia pandangi hingga hilang. Lalu dia akan aduk lagi berulang-ulang. Kadang bisa berjam-jam lamanya. Jujur, sebuah pemandangan yang menyedihkan. Kebiasaan itu membuatku bingung dan sedikit cemas. Namun, layaknya semua hal yang membuatku cemas, kuabaikan saja dengan berharap dia akan suatu hari berhenti sendiri.

Mama Hasni juga tidak bilang banyak sebelum dan sesudah ritual malam itu. Masih ingat benar aku dengan bau parfumnya yang keras, dan kerudungnya yang disematkan ketat di bawah dagunya yang lancip. Di antara bacaan mantra-mantra dan hp-nya yang terus dibombardir dengan sms, dia memandangiku dengan memelas.

‘Mama hanya membantu orang-orang baik yang teraniaya.’

            Aku mengangguk, ‘Iya, Mama.’

            ‘Kasihan Mama lihat kamu begini. Banting tulang tapi selalu diperlakukan dengan jahat.’

            Aku tidak menjawab, telingaku panas karena malu.

            ‘Setelah malam ini, kamu akan baik-baik saja.’

            Aku mengangguk.

            ‘Tapi jangan lupa sama Mama kalau kamu sudah sukses. Mama hanya membantu dan tidak pernah meminta banyak.’ Dia tersenyum, lalu menambahi, ‘Seikhlasnya saja.’

Dia ambil sebutir telur asin dari tasnya. Cangkangnya berwarna kebiruan dan berukuran lebih besar dari telur biasa. Saat dia tetaskan di atas mangkuk kecil, aku sedikit kaget karena yang keluar masih cair. Lendir bening dengan kuning pucat di tengahnya.

Mama Hasni sodorkannya telur mentah itu ke arahku, dan menyuruhku untuk meminumnya.

Saat kudekatkan gumpalan lendir itu ke mulutku, hidungku disambut dengan baunya yang pekat. Tidak seasin yang kukira, justru dingin dan kelicinan lendir itu yang membuatku ingin muntah. Licin, tapi seakan menari-nari, terkumur-kumur dengan tanpa sadar. Berlendir menggeliut, diikuti dengan rasa pahit yang tak habis-habis menempeli lidah, gusi, gigi, hingga celah-celah gigiku. Saat kutelan pun rasanya menggelandir seperti tak pernah benar-benar turun dari kerongkonganku.

Mama Hasni pulang tak lama setelah itu, meninggalkan wanginya yang semakin lama semakin membuatku muak. Ingin kumuntahkan seisi perutku, tapi aku tidak mau meresikokan kesaktian ritual itu. Berulang-ulang kutelan ludahku yang pahit, yang membuat perutku semakin sarat, seakan membuncit penuh dengan lendir kuning pucat.

Saat akhirnya aku terlalu lemas untuk mengontrol rasa muak itu, aku pun terlenggar tidur dan ditemui demam serta mimpi-mimpi gila. Perutku yang terasa kencang seperti terdorong keluar, semakin penuh berisi sampai pusarku mencuat dan rasa muak itu menjadi sakit yang begitu tajam. Pada puncaknya, aku berteriak dan serta-merta seluruh isi perutku memburai keluar, dengan sakit dan rasa lega yang dilengkapi cairan panas yang tumpah.

Keesokannya, aku bangun dan sadar tentang mimpi dan halusinasi itu. Dasterku yang lembap terasa dingin, jauh beda dengan situasi semalam yang begitu pengap dan panas. Rambutku pun kuyup. Keringatku juga terserap sudah oleh bantalku yang basah. Kuraba perutku pelan, lalu sedikit-sedikit kutekan memastikan semuanya masih sama. Tidak tersemburat keluar. Tidak ada cairan kuning kental yang meletup mengotori ranjang dan sprei polosku.

Saat itulah aku lihat dia di sana, muncul dalam hidupku layaknya kerabat yang tidak tahu sungkan. Dia hanya berdiam terjongkok di sudut kamarku. Tangannya bersiku melindungi badannya yang kurus dengan rusuknya yang menonjol. Matanya melihatku kosong, tapi tidak takut untuk menemui padanganku yang tidak percaya.

‘Hei.’ Akhirnya aku berkata.

Diam. Dan sesaat kemudian akhirnya bersuara, ah.

Aku beranjak dari ranjangku, mendekatinya. Hanya anak kecil, pikirku. Tidak ada yang janggal. Perlahan kudekati dan tidak ada reaksi sama sekali. Saat akhirnya aku tepat di depannya, kupastikan sekali lagi. Semuanya normal saja. Berjari lengkap, sepuluh jari tangan dan sepuluh jari kaki. Pandangannya berbalik mengamatiku dengan penasaran.

‘Kamu lapar?’ Tanyaku

Ah

‘Sini, ayo makan.’

Tidak bergutik. Hanya suara yang sama. Ah.

Kutaruh tanganku di pundaknya, pelan. ‘Ayo’

Ah, kali ini dia mengangguk lambat.

‘Ayo’, kuambil pergelangannya dan mengajaknya jalan ke arah dapur.

 

Pagi itu aku buatkan dia sepiring nasi putih dan dua telur ceplok serta sedikit kecap manis. Aneh rasanya ada seseorang selain aku di dapur ini, duduk di sisi meja makan yang biasanya kosong. Dia tidak mengambil sendok garpu yang kutaruh di samping piringnya. Langsung serbu saja dengan tangannya. Paling tidak masih pakai tangan kanannya dan tampak sedikit wajar. Sejumput demi jumput dia masukkan nasi dan potongan telur ke mulutnya. Seperti yang orang-orang bilang, anak sehat makan dengan lahap.

 

***

 

 

Yang Mama Hasni janjikan memang benar terjadi. Sejak kehadirannya dalam hidupku, tak seorang pun berani memandangku sebagai si pecundang kantor. Kerabat-kerabat kantorku yang sialan itu enyah dengan sendirinya. Camille tak lagi bisa mengirim email-email agresif semenjak kecelakaannya. Tak hanya kedua tangannya yang dibungkus gips, tapi dia lebih sering melamun di mejanya. Di waktu makan siang, kursi yang sering Kiki tempati juga kosong karena dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk merokok dan berdebat dengan seseorang di teleponnya. Ingrid si bully pun lebih sering absen setelah diagnosa kanker rahimnya. Lebih-lebih si Farid, si boss besar, tertangkap basah selingkuh dengan asistennya. Lalu karena istrinya itu anak pemilik perusahaan, dia pun dipecat seketika.

            Sehabis dipecatnya Farid, datanglah Leila sebagai penggantinya. Untungnya aku dan Leila sangat cocok. Tak hanya karena dia seumuranku, Leila juga suka dengan candaan dan gurauanku. Berkali-kali, Leila yang tegas tapi sopan mempercayaiku dengan proyek-proyek yang lebih menantang. Kinerjaku pun mulai dihargai di perusahaan itu. Dua bulan kemudian, aku mendapatkan promosi dengan gaji yang lebih menjamin. Aku bisa juga akhirnya membeli baju-baju yang lebih layak, menata rambut dan make-up yang pantas untuk orang seumuranku. Orang-orang pun semakin ramah dan menghormatiku. Tidak ada lagi mereka yang sengaja tidak mengundangku ke acara-acara sosial selepas kerja. Sayangnya, aku tidak bisa terlalu sering meninggalkan si anak kecil itu. Lagi-lagi karena dia tidak tumbuh seperti anak biasa.

Tak hanya tubuhnya yang tidak berubah, dia masih juga belum bisa berbicara. Sepertinya aku harus menjaga anak yang selamanya berbentuk bocah. Dua tahun silam ini, setiap hari, mau tidak mau aku harus meladeninya. Di pagi hari sebelum kerja, aku memandikannya, membantunya memakai baju, lalu menyiapkan sarapannya. Saat aku di kantor, dia akan tinggal di apartemenku dan mencari-cari sesuatu yang membuatnya terhibur. Di minggu pertamanya, dia menemukan sebuah baskom yang kemudian diisinya dengan air, dan waktu itulah dia menemukan mainan kesukaannya.

            Aku merasa iba dengan kesederhanaan yang membingungkan itu. Minggu demi minggu aku terus menemukannya terpatri dengan baskom, air, dan pusaran di tengahnya. Hingga suatu sore, kubelikan dia sebuah robot mainan dengan mata yang bersinar dan bisa berjalan-jalan meskipun terpatah-patah. Dia pun mulai beralih dari mainannya yang menyedihkan itu. Aku mendapatinya tersenyum-senyum dan berjingkrak-jingkrak mengelilingi si robot. Anehnya, setiap kali aku berbuat sesuatu yang menyenangkannya, keberuntunganku seakan berganda. Malam itu, Leila menjadikanku seorang senior partner perusahaan kami. Pernah juga aku belikan es krim, keesokannya aku menang arisan. Kubelikan coklat, dan aku temukan amplop berisi uang di parkiran. Sampai akhirnya jadilah kebiasaanku untuk memanjakannya dengan makanan-makanan kesukaannya. Dari nasi goreng, burger, pizza, apa saja— kecuali sushi. Kecuali makanan dengan daging mentah. Sekilas aku teringat kata-kata Mama Hasni lagi. Katanya daging hewan mentah adalah pantangan besar. Dia juga bilang, perlakukan dia seperti anakmu sendiri.

Syarat-syarat itu tidak terlalu susah. Jujur, seumur-umur aku tidak pernah berpikiran untuk punya anak. Tapi sebenarnya gampang. Apa yang aku suka, dia suka juga. Makanan apapun yang aku suka dia doyan juga.

Tak heran juga jika dia menuruni makanan favoritku. Burung dara goreng Pak Kardi. Harum, dengan kulit coklat kering dan renyah. Disantap dengan sambal dan timun dan kemangi beraroma untuk lalapan. Seperti aku, dia pun akan memulai dengan memakan sayapnya, lalu memamah leher, lalu paha, dan akhirnya daging dadanya yang berserat. Kadang aneh, melihat kesamaan sikap kami. Kadang-kadang aku juga melihat kemiripanku di raut mukanya. Jujur, kadang aku bertanya jika malam itu bukanlah sebuah mimpi demam saja. Bagaimana jika nyatanya aku benar-benar melahirkannya dari rahimku. Bagaimana jika dia benar-benar anakku.

 

 

***

 

 

            Orang-orang di blok apartemenku menjulukinya si pemalu. Aku jarang mengajaknya keluar, hanya sesekali karena kasihan kuajak dia keluar agar dia bisa memilih mainan barunya. Beberapa tetanggaku yang sempat bertemu dengannya pernah mengajaknya ngobrol, tapi dia tidak berkata apa pun. Tidak juga dengan hah atau huhnya. Aku pun akan menjawab pertanyaan mereka sembari mengakhiri interaksi itu dengan memberi tahu mereka bahwa anak itu sangatlah pemalu.

            Dari semua tetanggaku, yang mengkuatirkan cuma Rani dari unit sebelah yang entah kenapa selalu berjodoh untuk bertemu di lift nomer dua. Dari semua tetanggaku, Rani paling suka banyak tanya.

            Di pertemuan pertama kami, Rani langsung menanyainya kenapa dia tidak di sekolah.

            Aku menjawab dengan sungkan, ‘Masih tidak enak badan.’

            Dia langsung menghujaniku segala anjuran, seperti untuk tidak memasang ac kencang-kencang walaupun sedang panas, dan untuk tidak meminum jus kotak yang terlalu banyak kandungan gulanya, apa lagi mie instan yang penuh dengan pengawet.

            Kuatir tetanggaku yang lain juga akan curiga, esoknya aku belikan beberapa pasang seragam SD, untuk dia pakai saat dia keluar rumah. Aku pun hanya mengajaknya setelah jam sekolah. Kami berdua terlihat seperti tipe ibu dan anak yang pulang dari jemputan, tetangga ataupun orang yang berpapasan pun tak lagi menghabiskan waktu mereka untuk bertanya-tanya. Semuanya terlihat wajar. Kami hanyalah seorang ibu dan anak.

            Kedua kalinya bertemu Rani, dia tak lagi bertanya tentang sekolah. Mungkin karena dia sudah disibukkan dengan bayi barunya, dia tak lagi bertanya dan hanya memperkenalkan nama bayi itu. Abi, kependekan dari Abizar yang berarti tambang emas dalam bahasa Arab. Jelas-jelas karena ayahnya yang berdinas di pertambangan. Dalam hati aku berpikir, suaminya bekerja di luar kota, jadi pantas jika dia suka mengajak bicara.

            Anehnya, walaupun unit apartemen kami bersebelahan, aku tidak pernah melihat suaminya. Tidak pernah juga aku melihat pembantu, ataupun sanak keluarga yang menjenguk atau membantunya. Yang ada hanya mereka berdua. Abi yang lebih sering terlelap di dalam stroller besarnya yang nyaman, dan Rani yang penuh tanya dengan wajah yang selalu segar dan rambut yang tertata rapi.

            Kadang di dalam lift nomer dua, lagi-lagi, Rani bisa saja membuatku merasa sangat tidak nyaman. Pertanyaannya belakangan ini tidak banyak, hanya saja aku mulai berpikir. Suatu saat nanti, Abi akan tumbuh lebih besar dari si anak pemalu.

 

           

            Sore itu saat pintu lift nomer dua terbuka, aku tahu dengan pasti bahwa Rani dan Abi akan menyusul. Tentu saja suara Rani terdengar saat aku mulai memencet tombol naik. Tunggu, katanya terburu-buru. Rani terlihat segar, walaupun tadi malam tangisan Abi terdengar dari kamarku. Lima kali tepatnya.

Bayi itu tertidur pulas, Rani mendorong-tarik pramnya seakan takut Abi akan bangun. Aku hanya tersenyum.

            ‘Dara goreng lagi, Mbak?’ Tanyanya setelah melihat kantung plastik yang aku jinjing. Mungkin dari baunya yang semarak.

            ‘Iya, ada yang masih nggak doyan makan.’

            Rani tersenyum, ‘Pengen masakan mamanya kali?’

            ‘Ngga. Kayanya sih cuma keasikan main aquarium barunya.’ Jawabku.

 

 

Seperti yang aku kira, dia asik menontoni aquariumnya. Kepalanya menongok masuk ke mulut kotak kaca itu. Benar-benar terpaku hingga seakan tidak sadar aku sudah memasuki ruangan itu.

‘Hai, sayang.’

Hah.

Di depannya sekumpulan ikan koi berperut buncit mondar-mandir seperti tidak peduli bahwa ada seorang bocah yang mengamatinya tanpa lelah.

Karena lapar, aku segera siapkan makanan itu. Nasi, dara goreng, lalapan, sambal.

‘Yuk makan. Burung dara kesukaanmu.’

Hah-hah.

‘Ayo-ayo. Makan.’

Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. Aku mulai resah. Dua hari belakangan ini jelas ada sesuatu yang berbeda. Temperamennya seperti lebih dingin, lebih suka menyendiri di kamarnya dan aku harus berulang-ulang memanggilnya sebelum akhirnya dia keluar dari kamarnya dengan terpaksa.

‘Ayo makan, Nak!’

Kali ini tidak ada jawaban sama sekali.

Ada sesuatu yang salah. Aku melihat gerakan di sisi pipinya. Seperti mengunyah sesuatu. Lalu dalam permukaan air itu ada tetesan keruh yang menetes dari mulutnya. Saat itu aku sadar, ada tiga koi yang hilang. Satu di antaranya ada di mulutnya yang asik memamah.

‘Astaga, Anak.’ Ujarku panik, ‘Muntahkan!’

Dia tidak mau membuka mulutnya sama sekali, sampai-sampai aku harus membukanya dengan paksa. Di dalamnya aku bisa melihat kepala koi itu. Matanya yang bulat berkaca-kaca memantulkan semua kekalutanku.

‘Muntahkan!’

Hah-hah.

Dengan cepat kumasukkan telunjuk dan jari tengahku ke dalam mulutnya, sembari berusaha mencapit keluar kepala koi sialan itu. Tapi kemudian dia justru mengeratkan otot-otot mulutnya dan kurasakan tekanan kuat yang menghimpit kedua jariku. Lambat, tapi pasti. Semakin lama gigi-giginya yang kecil dan tumpul mulai terasa. Semakin kuat, semakin sakit dan nyeri.

Dalam kepanikanku, kutampar dia keras tepat di atas telinganya. Dia lepaskan jemariku, begitu juga dengan kepala koi itu yang kemudian terlempar ke dalam air aquarium, tempat dia menemui ajalnya tadi.

Dia menatapku dengan marah, lalu berlari menuju kamarnya.

Badanku mendadak merasa lemas namun kupaksakan untuk mengikutinya. Dia sedang meringkuk di pojok, kepalanya di antara kedua lutut. Kami berdua sama-sama merasa kalah. Tidak ada lagi yang bisa dirasionalkan. Anakku baru saja memakan piaharaannya.

Perlahan kututup pintu kamarnya, sambil berkata bahwa dia sedang dihukum dan tidak boleh keluar kamar sampai esok hari.

Luka gigitan di jemariku membuatku susah tidur malam itu. Aku juga tak bisa berhenti bertanya tentang syarat-syarat yang Mama Hasni pernah sebut. Dia menekankan berulang-ulang di ritual malam itu. Satu, untuk mengasuhnya seperti anak sendiri. Dua, jangan pernah memberi makan daging mentah. Aku tidak pernah lupa keduanya, tapi mana aku tahu kalau bakalan seperti ini kejadiannya. Kupandangi layar teleponku, tapi belum ada juga balasan dari Mama Hasni.

Akhirnya pukul lima pagi dan aku belum tertidur sedikit pun.

Dalam kerunyaman itu tiba-tiba aku dikagetkan dengan teriakan histeris dari apartemen sebelah. Rani dan Abi. Hanya saja belum terdengar tangis Abi sekali pun malam itu. Meskipun teredam oleh dinding pembatas, teriakan Rani terdengar kencang dan terputus-putus.

Kepalaku terasa berat saat bangkit, semuanya sedikit berputar. Kulewati kamarnya yang terbuka. Si anak tidak ada di sana.

Rani masih terus berteriak. Kali ini kudengar dia berlari keluar dari apartemennya.

Saat aku menuju ke ruang utama, anak itu ada di sebelah aquarium. Di sisinya ada stroller abu-abu.

‘Anak—'

Kali itu kudengar Rani menggedor pintu apartemenku. Tangisannya semakin terdengar jelas, dan semakin pilu.

Dia berteriak, ‘Mbak, tolong! Abi hilang!’

Aku mencoba abaikan pemohonan tolongnya. Sementara itu si anak berdiri membelakangiku, lalu pelan-pelan meraih isi strollernya. Diangkatnya tubuh mungil yang terbungkus kain biru muda. Abi yang tertidur pulas. Anak meraih jari-jarinya yang mungil dengan tatapan yang rakus.

Rani terus menggedor-gedor pintuku.

‘Anak, jangan.’

Seketika dia mengalihkan pandangannya ke arahku. Dengan berhati-hati, dengan tanpa suara, ku ambil Abi dari gendongannya.

Aku berbisik dengan murka, ‘Masuk ke kamarmu. Sekarang.’

Dia pun pergi. Kuamati langkah-langkah kecilnya, hingga dia menutup pintu di belakangnya.

Rani berhenti memukuli pintuku sembari terus menangis saat kutaruh Abi dalam strollernya. Kupindahkan dia ke kamarku lalu kukunci pintuku agar tak seorang pun bisa mendekatinya.

Saat kutemuinya, Rani dan seluruh emosinya berhamburan. Kata-katanya tidak lagi terdengar jelas di antara isakan dan ratapannya yang miris. Katanya pagi itu pintunya terbuka dan Abi hilang dari kamarnya. Dia yakin, itu semua kerjaan suaminya. Aku pun mencoba menggiringnya keluar agar tak membangunkan bayi yang tersembunyi di kamarku. Dia menambahi tentang perceraiannya, si lelaki yang suka main pukul, dan yang selama ini mengancam untuk mengambil Abi dengan paksa.

‘Mendingan Mbak kasih tahu pihak sekuriti sekarang.’ Kataku, ‘Siapa tau juga dia belum jauh.’

Rani masih terisak-isak. Seluruh mukanya basah oleh air mata, ingus, dan keringat.

‘Cepat, Mbak.’ Himbauku, ‘Saya bisa jaga disini, siapa tahu mereka balik lagi.’

Rani pun bergegas, hilang di balik lift nomer dua.

 

Sesudah itu langsung saja aku masuk kembali ke unitku. Perutku mual dan degub jantungku terdengar keras di telingaku. Ternyata belum usai juga kekacauan pagi itu. Hanya berjarak tiga napas setelah aku bisa berpikir jernih, seketika itu juga jawaban dari Mama Hasni muncul di layar hp-ku.

 

‘Sudah lama ngga ada kabar. Mama bisa bantu, tapi saat ini Mama masih di rumah sakit dan butuh bantuan. Mama hanya minta karena Mama sangat butuh. Hendaknya kamu ikhlas kalau Mama minta bantuan 100 juta.’

 

Bangsat. Bangsat. Bangsat.

Dari mana juga aku bisa dapatkan seratus juta pagi itu?

Aku terdiam beberapa saat, sadar tentang dua anak yang ada di unitku. Satu kamar berisi anak kecil yang tiba-tiba menjadi doyan dengan daging-daging mentah. Ada juga bayi tetangga yang untung saja bisa tertidur pulas di kamar satunya.

Hanya aku satu-satunya yang dewasa. Hanya aku yang terhimpit dalam keruwetan ini.

Cepat-cepat aku buka pintu kamarku, dan kudorong pram Abi keluar. Kupastikan tidak ada seseorang pun di koridor. Kosong dan yang penting tidak ada Rani. Setibanya di depan unit Rani, aku ingin cepat-cepat bertolak dan bersembunyi di kamarku lagi. Persetan dengan urusan ini, pikirku.

Hanya saja, pintu Rani terbuka. Tidak ada suara apa pun di dalamnya. Yang kutemukan hanya standar bentuk apartemennya yang merupakan kebalikan dari unitku. Kamar utamanya ada di kiri, sementara punyaku di kanan. Dapurnya di kiri juga, punyaku pun di sebelah kanan. Aku sedikit terkejut dengan huniannya. Tidak terlalu berantakan, tapi selama ini aku mengira Rani yang selalu berwajah segar akan memiliki tempat yang bersih dan lebih rapi dari ini.

Kudorong lagi pram itu lebih ke dalam. Hendaknya aku bertolak sekarang, tapi kudengar Rani di belakangku.

‘Abi, anakku!’ Lalu ia bergegas mengamati bayinya, dengan paksa diangkatnya dalam gendongan. Abi terbangun dan mulai menangis. Tangisan Rani pun semakin menjadi-jadi. Matanya yang menyipit karena tangisan dan kernyitan mukanya memandangiku dengan tidak percaya.

Aku angkat bicara, ‘Tadi, ketemu di lift nomer satu. Masih di pramnya—’

Rani menarik napasnya dengan tersentak, lalu terdiam untuk beberapa saat. Dia taruh bayinya ke dalam kamar dan kembali keluar menemuiku. Tak disangka, Rani berkata, ‘Aku kaya orang gila, Mbak. Minggu kemarin juga kejadiannya sama. Untungnya sekuriti apartemen nemuin. Aku baru sadar sejam sesudahnya. Baru sadar kalau Abi ngga ada di kamarnya.’

Aku mengangguk pelan.

‘Orang tua macam apa aku?’

‘Mbak Rani, sudah. Yang penting Abi sudah ketemu.’

Lagi-lagi Rani menangis. Dengan enggan kuberikan Rani usapan ringan di lengannya tapi justru tangisannya semakin menjadi-jadi. Menyedihkan, seperti si anak dan pusaran air yang dikobok-kobok.

Kutinggalkan mereka tak lama setelah itu. Rani hanya berhenti menangis karena Abi terbangun. Dengan basa-basi kutawarkan untuk membantunya jika dia butuh apa-apa lagi.

Sesampainya di unitku, kusiapkan burung dara goreng yang tadi malam tak termakan. Kesukaannya. Kesukaanku. Lengkap dengan sambal dan lalapan. Kubuka kamarnya pelan. Si bocah duduk di ujung kasurnya dengan kepala tertunduk.

Apa yang sedang dia pikirkan?

Sempat aku berpikir untuk membawakannya sebaskom air, hanya saja naluriku berkata bahwa dia sedang lapar. Yang dibutuhkannya hanya makanan saat itu.

Kuletakkan tanganku di bahunya yang kecil. Dia tidak bereaksi.

Lalu aku berkata, ‘Maafkan Ibu. Ibu tidak seharusnya memukul kamu. Tapi kamu juga tidak boleh makan ikan yang masih hidup— jangan makan semuanya yang masih hidup. Tidak boleh.’

Dia mengangguk pelan.

‘Ini burung dara kesukaanmu. Makan, Nak.’

Dia hanya diam.

‘Ibu tahu kamu maunya yang lain, tapi makan ini, Nak. Kesukaanmu.’

Kepalanya mengarah ke mukaku, tapi matanya masih menghindariku dan tetap menatapi lantai.

Kusuapkan sedikit nasi dengan suwiran dara. Dia pun membuka mulutnya, perlahan mengunyah makanan itu. Sepertinya dia enggan, tapi memaksakan dirinya untuk menelan yang ada di mulutnya itu.

‘Nah gitu, Nak.’

Kami berdua terdiam beberapa saat. Yang ada hanya suara kemahan lirih dari mulutnya yang kecil. Di antara suapan-suapan selanjutnya, aku berikan dia sekotak jus apel agar membuatnya lebih gampang untuk menelan dan menghabiskan semuanya.

‘Ayo habiskan. Nanti kita cari uang, supaya Mama Hasni bisa membantu kita. Biar dia bisa menyembuhkanmu.’

Dia pun mengangguk.

Hah-hah.

Sore itu, sehabis dia bermain dengan baskom airnya, ku gantikan bajunya dengan seragam SD merah putih. Kami tidak bertemu dengan Rani dan Abi di lift nomer dua. Tetangga-tetangga yang lain pun hanya memberi senyuman, karena tahu dia si anak pemalu. Jam lima sore itu kami menuju ke Toko Mainan 77. Kubiarkan di memilih apa yang dia mau. Dipilihnya mobil-mobilan dengan pintu yang bisa terbuka dengan otomatis. Selepas itu kami mampir di Warung Pak Kardi lagi. Si pelayan sudah tahu pesanan kami. Kami pulang dengan dua bungkus dara goreng lengkap dengan sambal dan lalapan

 

 

Melbourne, Agustus 2024